Belajar dari Tan Malaka: Ketika Rakyat Sibuk Bertengkar, Siapa yang Diuntungkan?

 Belajar dari Tan Malaka: Ketika Rakyat Sibuk Bertengkar, Siapa yang Diuntungkan?


Beberapa waktu terakhir, saya sering berpikir tentang kondisi masyarakat Indonesia. Hampir setiap hari saya melihat perdebatan di media sosial, baik tentang politik, agama, maupun isu-isu yang sedang viral. Kadang saya merasa kita terlalu sibuk mempermasalahkan perbedaan hingga lupa melihat persoalan yang sebenarnya ada di depan mata. Dari situlah saya teringat pada buku Aksi Massa karya Tan Malaka, sebuah buku yang ditulis hampir seratus tahun lalu, tetapi menurut saya masih sangat relevan dengan keadaan Indonesia saat ini.



Salah satu hal yang menarik dari pemikiran Tan Malaka adalah pandangannya bahwa kekuatan rakyat terletak pada kesadaran mereka. Dalam Aksi Massa, ia berpendapat bahwa rakyat yang sadar akan kondisi sosial, ekonomi, dan politik di sekitarnya tidak akan mudah dipecah belah. Sebaliknya, masyarakat yang kurang memiliki kesadaran kritis akan lebih mudah diarahkan, dipengaruhi, bahkan diadu domba oleh berbagai kepentingan. Ketika membaca bagian ini, saya merasa seolah Tan Malaka sedang berbicara tentang kondisi yang sedang kita alami sekarang.

Menurut pengamatan saya, masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki banyak persoalan yang sama. Banyak orang mengeluhkan sulitnya mencari pekerjaan yang layak, harga kebutuhan pokok yang terus naik, biaya pendidikan yang semakin tinggi, serta ketidakpastian ekonomi yang dirasakan oleh banyak keluarga. Namun yang sering terjadi justru sebaliknya. Kita lebih mudah terpecah karena perbedaan pilihan politik, perbedaan pandangan, atau isu-isu yang sesungguhnya tidak memberikan dampak langsung terhadap kehidupan sehari-hari. Akibatnya, energi masyarakat habis untuk saling menyerang, sementara persoalan yang lebih penting sering kali luput dari perhatian.

Dalam pandangan saya, inilah yang sebenarnya ingin diingatkan oleh Tan Malaka. Ia tidak hanya berbicara tentang gerakan massa atau perjuangan politik, tetapi juga tentang pentingnya kesadaran berpikir. Tan Malaka percaya bahwa perubahan tidak akan lahir dari emosi sesaat. Perubahan membutuhkan pemahaman, pengetahuan, dan kesadaran kolektif. Jika rakyat hanya bergerak karena kemarahan tanpa memahami akar masalahnya, maka gerakan tersebut akan mudah kehilangan arah. Pendapat ini menurut saya sangat masuk akal, terutama di era media sosial ketika banyak orang bereaksi sebelum memahami persoalan secara utuh.

Saya juga melihat fenomena lain yang cukup mengkhawatirkan. Banyak orang hari ini lebih suka membaca potongan informasi daripada mencari pemahaman yang lengkap. Judul berita sering dianggap cukup untuk mengambil kesimpulan. Potongan video beberapa detik bisa langsung dijadikan dasar untuk menghakimi seseorang. Padahal, kemampuan berpikir kritis adalah salah satu hal yang sangat ditekankan oleh Tan Malaka. Ia percaya bahwa rakyat yang cerdas bukanlah rakyat yang hafal banyak informasi, melainkan rakyat yang mampu memahami dan menganalisis informasi tersebut dengan baik.

Bagi saya pribadi, pertanyaan "siapa yang diuntungkan ketika rakyat sibuk bertengkar?" adalah pertanyaan yang penting untuk direnungkan. Ketika masyarakat terpecah, mereka akan lebih sulit bersatu untuk memperjuangkan kepentingan bersama. Ketika perhatian publik teralihkan pada konflik yang tidak produktif, maka persoalan-persoalan besar yang menyangkut kesejahteraan rakyat bisa berjalan tanpa banyak pengawasan. Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua perdebatan itu buruk. Perbedaan pendapat adalah bagian dari demokrasi. Namun, perdebatan akan menjadi masalah ketika membuat kita lupa terhadap tujuan yang lebih besar sebagai bangsa.




Dari buku Aksi Massa, saya belajar bahwa kekuatan rakyat bukan hanya soal jumlah. Kekuatan rakyat terletak pada kemampuan mereka untuk berpikir, memahami keadaan, dan menjaga persatuan meskipun memiliki banyak perbedaan. Tan Malaka mengajarkan bahwa rakyat yang sadar akan lebih sulit dipermainkan oleh kepentingan tertentu. Sementara saya sendiri berpendapat bahwa tantangan terbesar masyarakat Indonesia saat ini bukan hanya persoalan ekonomi atau politik, tetapi bagaimana membangun kembali budaya berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi.

Pada akhirnya, saya merasa pesan Tan Malaka masih layak untuk kita renungkan. Jangan sampai kita terlalu sibuk bertengkar dengan sesama rakyat hingga lupa melihat persoalan yang sebenarnya sedang kita hadapi bersama. Karena ketika masyarakat kehilangan kesadaran dan lebih memilih konflik daripada solusi, yang rugi bukan hanya satu kelompok, melainkan seluruh bangsa. Mungkin sudah saatnya kita lebih banyak berdiskusi daripada berdebat, lebih banyak memahami daripada menghakimi, dan lebih banyak mencari solusi daripada mencari musuh. 

Comments